Jumat, 03 April 2015

KEBUDAYAAN BETAWI


Saya terlahir dari keluarga betawi yang terdiri dari orang tua saya , Adat kebiasan dalam kebudayaan betawi adalah tingkah laku yang dipelajari dari ucapan orang tua kepada anaknya ,dalam kehidupan orang betawi terdapat upacara-upacara adat baik yang sakral maupun yang tidak , upacara-upacara itu menupkan fase kecil yang sudah mendarah daging sehingga akan merasa ganjil jika orang betawi tidak melaksanakannya . saya akan menjelaskan beberapa adat kebiasaan betawi ataupun upacarannya, yaitu:
1.      Mapas
Upacara yang dilakukan seorang ibu yang baru melahirkan. Pada upacara ini si ibu diharuskan memakan sayur , yang isinya terdiri dari sayur mayur agar ibu dan bayi yang baru dilahirkan tetap sehat.
2.      Puput puser
Upacara yang dilakukan apabila tali pusat bayi sudah lepas (puput).
3.      Nginjek tanah
Biasanya diadakan upacara ini apabila seoraang bayi telah mencapai umur delapan bulan.
4.      Tamatan Qur’an
Khatam Qur’an Khatam Qur’an di Betawi sering disebut Tamatan Qur’an. Upacara ini sangat penting bagi orang Betawi karena ini sebagai pertanda bahwa seseorang yang sudah melaksanakan upacara Tamatan Qur’an dianggap telah menjadi orang yang mengerti ajaran agama Islam.
5.      Upacara pernikahan
Upacara adat perkawinan Betawi dilakukan melalui beberapa tingkatan upacara yang berhubungan atau berkaitan satu sama lainnya. Diantaranya :
-          Ngedelengin                      - Akad nikah                - Pulang tige ari
-          Ngelamar                          - Kebesaran
-          Bawa tande putus             - Negor

Tidak hanya upacara-upacara yang menjadi ciri khas dalam budaya betawi , saya akan menceritakan sedikit mengenai PERNIKAHAN dalam kebudayaan betawi. Betawi itu memang kebudayaan yang tiada habisnya untuk diceritakan. Salah satunya perkawinan yang dilakukan oleh paman saya. Perkawinan yang dilakukan oleh warga betawi memang sungguh unik mulai dari lamaran hingga perkawinan. Saudara saya melangsungkan perkawian dengan adat betawi.
Tradisi keluarga saya sebelum melangsungkan perkawinan terlebih dahulu diadakan Maulid pada malam hari. Dan melaksanakan akad nikah pada malam hari setelah melakukan Maulid. Tetapi sebelum Maulid calon mempelai lelaki terlebih dahulu diarak atau diangkat dengan menggunakan bangsu yang telah dihias. Calon mempelai laki-laki diarak dari rumahnya hingga sampai rumah calon mempelai wanita.



Dengan diiringi puluhan petasan acara pun semakin meriah dan ditambah dengan hadroh dan lantunan sholawat. Membuat suasana menjadi meriah sehingga jalan menjadi milik kami. Tidak lupa pula diiringi oleh pemain hadroh yang begitu bagusnya.


Setelah sampai calon mempelai pria didampingin oleh ayah atau pun sanak kelarga menuju tempat akad nikah tetapi sebelumnya diadakan Maulid dan itu memang sudah kewajiban keluarga untuk melaksanakannya. Sanak saudara yang hadir dan ikut mengarak membawa seserahan yang berupa pakaian,buah,kue, alat yang dibawakan untuk calon istri dan tentunya roti buaya yang menjadi teradisi orang Betawi.


Setelah acara maulid selesai barulah dilaksanakan akad nikah yang dilaksanakan oleh calon mempelai calon pria dan orang tua calon mempelai wanita. Setelah akad nikah dilaksanakan barulah sang calon mempelai wanita keluar dan bertemu dengan suaminya. Dengan bahagiannya melihat paman saya telah menemukan pendampingnya